Merayakan Keberagaman Indonesia
HFN 2017

Still Photographer: Menelaah Profesi ‘Si Pemotret’ dalam Produksi Sebuah Film

Ruang yang dahulu dikenal sebagai lab pencucian film tersebut kini diberdayakan sebagai ruang pameran still fotografi ‘Menghadirkan Keberagaman’. Terpampang sejumlah foto still dari sejumlah film yang tak asing lagi seperti Surat dari Praha, Headshot, Pendekar Tongkat Emas, hingga dari film yang masih belum tayang ketika itu - Kartini. Kumpulan foto still dari beragam film itu merupakan jepretan tujuh fotografer still yang tak lain adalah Umar Setiadi, Joen Ginting, Eriekn Juragan, Erik Wirasakti, Erland Herlambang, Ferry Rusli dan Arkhirwan Nurhaidir.

Pameran berlangsung selama tiga hari - dari 30 Maret sampai 1 April, ditutup dengan Seminar “Still Fotografi sebagai Pilar Utama dalam Promosi Film” pada hari terakhirnya. Adapun pembicara pada seminar ini tak lain still photographer Eriekn Juragan, kurator pameran Firman Ichsan, produser film Michael Julius, publisis film Ade Kusumaningrum. Ruangan dipenuhi oleh para pengunjung yang cukup antusias dengan profesi still photographer di dalam film.

Seminar diawali dengan pembahasan mengenai posisi still photographer dalam produksi film yang tampak ada dan tiada, padahal posisinya cukup lah penting terkait dengan promosi film. Tanpa foto, apalah arti promosi film. “Tantangan seorang still photographer adalah gimana caranya dapat menyampaikan isi dan pesan film dalam single frame” ungkap Eriekn. Isi dan pesan dalam satu frame inilah yang menjadi daya pikat seseorang untuk memutuskan menonton sebuah film. Ade Kusuma juga bercerita mengenai strategi dalam mempromosikan film melalui media sosial maupun cetak. Hal ini tentunya membutuhkan materi foto yang berkualitas. Oleh sebab itu, still photographer professional mutlak dibutuhkan.

Para still photographer pun berharap ke depan mereka dapat mewujudkan Asosiasi Still Photographer Indonesia, guna melindungi dan melestarikan keberadaan profesi mereka.

Berita Terkait