Merayakan Keberagaman Indonesia
Artikel

Napak Tilas Festival Film dan Kiprah Film Indonesia di ASEAN

Sejarah dan Faktor Lahirnya Festival Film di Asia Tenggara

Keberadaan festival film bergengsi di tingkat ASEAN tentunya tidak lepas dari kehadiran film-film ASEAN yang turut mewarnai keanekaragaman sosial dan budaya yang ada di kawasan Asia Tenggara. Tentunya terdapat sejumlah faktor yang turut mendukung berkembangnya festival film di kawasan ini. Kondisi sosial-politik ASEAN dan kesadaran akan identitas sinema nasional adalah salah satu faktor. Kemudian terdapat pula faktor kemunculan pembuat film tingkat ASEAN yang filmnya mulai menghiasi sejumlah layar pada festival film di Eropa dan Asia. Faktor lainnya adalah terbentuknya budaya film, serta teknologi digital dalam pembuatan film.  

Masyarakat kawasan Asia Tenggara mengenal ‘gambar bergerak’ untuk pertama kalinya sebagai barang bawaan koloni. Sebagai produk imperialisme barat, butuh waktu yang cukup lama bagi pribumi untuk dapat memproduksi filmnya sendiri. Hingga kemudian muncul periode di mana pembuat film pribumi berupaya mencari suatu identitas nasional pada filmnya yang berbeda dengan film-film barat, sebagai suatu bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Periode ini terjadi selang beberapa tahun pascadekolonialisasi sejumlah negara di Asia. 

Berbicara mengenai festival film tingkat ASEAN, tentunya masih terhitung jauh dengan Eropa dan kawasan Asia lain yang telah memiliki sejarah yang panjang dalam penyelenggaraan ajang festival film di dunia. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa festival-festival film di luar ASEAN menginspirasi lahirnya festival film di kawasan Asia Tenggara. Inspirasi itu berawal dari mencuatnya sejumlah nama filmmaker tingkat ASEAN pada layar festival film dunia periode 1990-2000an. Salah satu yang berpengaruh di dekade 1990-an adalah Garin Nugroho yang sukses di beragam festival film, seperti Asia Pacific Film Festival dan Tokyo International Film Festival, Pyongyang International Film Festival, dan Berlin International Film Festival. Pada awal 2000-an muncul nama Edwin (Indonesia), Brillante Mendoza (Filipina), dan Apichatpong Weerasethakul (Thailand) yang melambung lewat festival film internasional.

Potensi film Asia Tenggara membuat sejumlah pihak merasa membutuhkan suatu ruang apresiasi bagi filmmaker ASEAN. Ruang apresiasi berbentuk pagelaran festival diyakini dapat menjadi pusat bertemunya film-film yang menawarkan karakteristik sosial dan budaya Asia Tenggara. Ruang ini diharapkan dapat menjadi agen terbentuknya budaya film yang terlepas dari unsur komersil. 

Memasuki dekade 2000-an mulai bermunculan sejumlah festival film di kawasan ini, seperti Singapore International Film Festival di Singapura, Wathann Film Fest di Myanmar, Salaya International Documentary Film Festival di Thailand, Salamindanaw Asian Film Festival di Filipina, Lubang Prabang Film Festival di Laos, Jogja NETPAC Asian Film Festival di Indonesia, dan lain sebagainya. Kehadiran festival film bertaraf Internasional merupakan satu faktor dari sejumlah faktor lainnya yang membentuk budaya film di kawasan Asia Tenggara. 

Adapun faktor lain yang tak boleh luput dari perhatian  adalah hadirnya teknologi digital Teknologi ini membuat produksi film masa kini tidak hanya didominasi oleh mereka yang menempuh sekolah film dan magang dalam pembuatan film. Bukan hanya dalam hal pembuatan film saja, tetapi distribusi dan ekshibisi juga terbantu karena teknologi. Contohnya, pendistribusian film ke festival dan ruang putar saat ini dapat dilakukan secara online. Akses teknologi memudahkan dan mendukung siapapun untuk berkecimpung dan membangun budaya film.

Kehadiran sejumlah festival film tingkat ASEAN, sistem yang bergeser dari analog ke digital, serta budaya film yang semakin mapan telah melahirkan wajah-wajah pembuat film baru yang memberikan warna pada sinema Asia Tenggara itu sendiri. Faktor-faktor tersebut menambah jam terbang para pembuat film menjadi lebih matang dalam menghasilkan karyanya. Sehingga, memunculkan Lav Diaz (Filipina) dan Wregas Bhanuteja (Indonesia) yang berhasil meraih penghargaan di Festival de Cannes, festival film yang dianggap paling prestisius.

Kiprah Film Indonesia di Tingkat ASEAN

Kehadiran festival film di tingkat ASEAN menjadi ruang yang juga dimanfaatkan para pembuat film Indonesia untuk mengharumkan nama Indonesia. Mereka menjadikan film Indonesia diperhitungkan di kancah internasional dan turut berkontribusi dalam perkembangan budaya film tingkat ASEAN. Bahkan, upaya mereka menjadikan film Indonesia dianggap terdepan di kawasan Asia Tenggara.

Singapore International Film Festival 2016 menjadi saksi, di mana 3 film Indonesia yang berbeda berhasil mendapat penghargaan. Prenjak karya Wregas Bhanuteja, berhasil meraih Best Southeast Asian Short Film. Kemudian The Origin of Fear karya Bayu Prihantoro Filemon, dan Turah karya Wicaksono Wisnu Legowo berhasil meraih Special Mention dalam festival tersebut. 

Istirahatlah Kata-Kata karya Yosep Anggi Noen dan Ziarah karya BW Purbanegara akhir-akhir ini menambah kedigdayaan Indonesia di tingkat ASEAN. Istirahatlah Kata-Kata berhasil meraih penghargaan film terbaik dalam Bangkok ASEAN Film Festival 2017. Sebelum meraih penghargaan tersebut, Istirahatlah Kata-Kata juga berhasil meraih Golden Hanoman Award atau penghargaan film terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016. Setali dua uang, Ziarah berhasil memenangkan kategori Best Screenplay dan Special Jury Award di ASEAN International Film Festival 2017. Penghargaan Ziarah tersebut menyusul penghargaan film terbaik di Salamindanaw Asian Film Festival 2016 yang diraih sebelumnya.

Sejumlah penghargaan yang diraih oleh film-film tanah air dalam festival film tingkat ASEAN maupun dunia menunjukkan bahwa film Indonesia diperhitungkan keberadaannya dalam tingkat internasional. Para pembuat film Indonesia memiliki kepekaan dalam menangkap fenomena yang terjadi di sekitar. Sehingga, mampu menawarkan keanekaragaman wacana, baik dari segi sosial, budaya hingga politik. Ini menjadi sumbangan tersendiri dalam memperkaya budaya film Independen tingkat ASEAN. 

Bila melihat konteks ASEAN, tidak hanya di Indonesia saja yang mengalami perkembangan pesat tetapi juga di kawasan Asia Tenggara lainnya. Faktor-faktor yang telah dipaparkan di atas serta ekosistem perfilman yang semakin terbentuk dengan baik memiliki peran yang fundamental bagi perkembangan tersebut. Mempertahankan dan meningkatkan diri adalah upaya yang seharusnya terus menerus dilakukan oleh penggiat film di Indonesia. Sehingga, perfilman Indonesia dapat terus sejajar dan berkontribusi dalam perkembangan film di ASEAN. (Julita Pratiwi)

Artikel Terkait